Tuesday, September 11, 2018

Penerapan Isi Tri Dharma Perguruan Tinggi Sebagai Mahasiswa

Bagi Anda yang hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, atau hendak menjadi dosen di perguruan tinggi tertentu, maka Anda perlu berkenalan dengan istilah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bisa jadi istilah ini memang sudah tidak asing di telinga Anda. Pasalnya di seluruh perguruan tinggi, baik negeri ataupun swasta. Wajib memampang poin-poin Tri Dharma Perguruan Tinggi di tempat-tempat strategis, agar bisa dilihat oleh seluruh aktivitas akademik di kampus tersebut. Walau mungkin sebagian besar dari Anda sudah paham terkait isi beserta seluk beluk Tri Dharma Perguruan tinggi, namun kami yakin pasti banyak juga yang hanya sekedar tahu istilahnya. Bahkan dari kita ada juga lho yang belum pernah mendengar sama sekali.

Sebelum kita berkenalan lebih jauh dengan Tri Dharma perguruan tinggi, maka sebelumnya kita perlu tau dulu definisi dari istilah ini. Kalau kita jabarkan secara bahasa, maka kita bisa mengartikan kata-katanya satu persatu. Di mana kata “Tri” yang berasal dari bahasa Sansakerta berarti tiga dan “Dharma” yang juga dari bahasa Sansakerta mengandung arti kewajiban. Jika mengacu pada arti dua kata di awal, maka bisa didefinisikan bahwa Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah tiga kewajiban perguruan tinggi. Tapi, ini adalah definisi secara bahasa. Nah, jika didefinisikan secara istilah, Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tiga hal yang harus dimiliki atau harus ada di sebuah perguruan tinggi saat aktivitas akademik berlangsung. Dan tiga hal tersebut merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dan dikembangkan secara berkesinambungan oleh seluruh civitas akademika di antaranya dosen dan mahasiswa. Idealnya Tri Dharma Perguruan Tinggi ini terinternalisasi ke dalam jiwa seluruh civitas akademika, sehingga istilah ini bukan hanya slogan atau jargon belaka. Namun hal inipun menjadi budaya yang disadari oleh semuanya. Dengan begitu, maka cita-cita dari Tri Dharma Perguruan Tinggi ini akan terwujud dan terimplementasikan dengan baik.

Setelah berbicara panjang lebar mengenai apa itu definisi Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka untuk lebih memahaminya lagi. Kita perlu mengetahui isi dari Tri Dharma Perguruan tinggi ini. Isi Tri Dharma ini ada tiga, dan ketiga isinya merupakan landasan dari sebuah perguruan tinggi. 

Yang pertama adalah pendidikan. Bangsa Indonesia ini membutuhkan kaum intelektual, yang kelak bisa membangun bangsa ini menjadi lebih maju lagi. Dan salah satu kaum intelektual yang jumlahnya semakin bertambah banyak adalah mahasiswa. Nah, untuk mencetak generasi intelektual yang berbudi luhur serta memiliki sudut pandang yang baik terhadap dunia, maka perguruan tinggi membutuhkan sistem pendidikan yang baik. Sistem pendidikan yang baik dan komprehensif di perguruan tinggi tentunya tidak hanya sekedar transfer ilmu dari dosen ke mahasiswanya saja. Tapi peran mendidik pun tetap harus menjadi tanggung jawab dosen sebagai tenaga pendidik di perguruan tinggi tersebut. Jadi amatlah tidak benar, jika ada dosen yang lebih mengutamakan kepentingannya dibandingkan kepentingan para mahasiswanya.

Lalu yang kedua adalah penelitian dan pengembangan. Selain sebagai sebuah wadah atau sistem pendidikan, perguruan tinggi pun memiliki kewajiban untuk melakukan penelitian dan pengembangan. Terkait ilmu-ilmu yang diampu di perguruan tinggi tersebut. Sehingga peran perguruan tinggi tidak hanya men-transfer ilmu yang sudah tersedia saja, namun perlu mengembangkannya lagi melalui berbagai kegiatan penelitian. Kewajiban meneliti di perguruan tinggi tidak hanya ditujukan kepada mahasiswanya saja, tapi para dosennya pun memiliki kewajiban yang sama. Tapi bedanya jika mahasiswa melakukannya sebagai syarat kelulusan dengan mengimplementasikan ilmu yang didapat melalui penelitian, sedangkan kalau dosen menjadi prasyarat yang terkait dengan jenjang karir. Namun tujuan utamanya tetap untuk pengembangan ilmu yang ada dan penelitian hal-hal baru.

Kemudian kita telah sampai pada isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga. Isi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga adalah pengabdian pada masyarakat. Siapa yang bertanggung jawab untuk mengabdi? Yang bertanggung jawab untuk mengabdi ke masyarakat tentunya seluruh civitas akedemika perguruan tinggi tersebut. Namun masing-masing tentunya mengabdi dengan cara yang berbeda. Bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, misalnya melalui organisasi-organisasi kemahasiswaan, entah itu dalam bentuk bakti sosial, penyuluhan, pendampingan masyarakat atau hal lainnya. Nah, sedangkan bentuk pengabdian para dosennya bisa dalam bentuk jurnal-jurnal penelitian yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat secara luas atau penemuan-penemuan yang pada akhirnya membantu masyarakat.

Sebagai mahasiswa, kita patut untuk menerapkannya dalam kehidupan perkuliahan. Nah, yang penerapan isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang pertama adalah penerapan pendidikan. Sebagai mahasiswa, kita sudah dinilai melakukan penerapan pendidikan. Mempelajari berbagai cabang ilmu, memanfaatkan fasilitas penunjang pembelajaran juga merupakan penerapan isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang pertama. Mengembangkan diri dengan memanfaatkan seluruh fasilitas dan wadah yang disediakan oleh perguruan tinggi. Hal ini mencakup pembelajaran didalam (akademik) dan diluar kelas (himpunan, organisasi, unit kegiatan, dll). Tidak sekedar ilmu dunia, namun juga ilmu akhirat. Karena nanti saat bekerja, yang kita butuhkan tidak hanya hard skills, namun soft skills juga menjadi penunjang kita agar mudah mendapatkan pekerjaan. Jika kita memiliki pengalaman dibidang apapun, maka apapun yang dilakukan nanti akan menjadi mudah. Jika kita terbiasa menjadi pembelajar, maka kita akan mudah mempelajari apapun. Menjadi mudah, karena sudah terbiasa. Kemudian juga pelajarilah ilmu agama, karena segala hal yang tanpa dilandasi oleh agama bisa jadi akan menghancurkan. Seperti ungkapan “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” (Albert Einstein, 1950). Jadilah manusia yang bermartabat, tidak hanya cerdas akalnya, namun juga mulia akhlaknya.

Kemudian penerapan dari isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang kedua yaitu penerapan penelitian dan pengembangan sebagai mahasiswa. Nah sebagai mahasiswa, kita dapat menerapkannya dengan melatih kemampuan analisis kita dalam berbagai cabang ilmu. Tidak hanya menerima begitu saja, namun kita juga harus tau asal muasal dari suatu cabang ilmu dan tidak terpaku pada fokus tertentu saja. Mengenai pengembangan, kita juga dapat mengembangkan penelitian dan penemuan yang telah ada menjadi sebuah inovasi agar terciptanya perkembangan dari suatu perguruan tinggi. Karena manusia telah dianugerahkan akal yang begitu sempurna, alangkah baiknya apabila digunakan dengan optimal agar mampu manghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.

Lalu penerapan dari isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terakhir yaitu penerapan pengabdian masyarakat sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa, kita dapat melatih cara kita dalam menghadapi dan berbicara kepada masyarakat sebagai perwujudan penerapan pengabdian masyarakat. Tidak hanya itu. Kita juga dapat melatih kepekaan sosial agar mampu membaur dengan masyarakat, mengetahui segala bentuk permasalahan yang ada, serta mampu memberikan solusi atas masalah tersebut menggunakan penelitian sebagai hasil dari pendidikan yang telah dilaksanakan. Karena tujuan akhir mahasiswa adalah mampu menghasilkan perubahan yang lebih baik untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan diri sendiri atau golongan. Jangan pikirkan bagaimana hidup kita saat ini, tapi pikirkan bagaimana kita hidup dimasa depan 5 hingga 20 tahun mendatang. Karena kita akan hidup dimasa depan sebagai ujung tombak kehidupan bangsa. Kita tidak bisa berharap banyak kepada masyarakat awam, justru merekalah yang sedang membutuhkan kita. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan menjadi pelopor untuk mewujudkan janji-janji kemerdekaan, melanjutkan semangat perjuangan pahlawan, serta menjadi pemimpin atas segala permasalahan, seperti ungkapan berikut “Indonesia memiliki banyak masalah, bukan karena banyaknya orang jahat. Tapi karena orang-orang baik memilih duduk diam dan mendiamkan. Mari kita sama-sama turun tangan.” (Anies Rasyid Baswedan, Ph.D., 27 April 2014). 

No comments:

Post a Comment