Saturday, September 15, 2018

PENERAPAN WEIGHTED SUM MODEL (WSM) 
DALAM PENENTUAN PESERTA JAMINAN 
KESEHATAN MASYARAKAT
Mesran1, Suginam2, Surya Darma Nasution3, Andsyah Putera Utama 
Siahaan4
1, 2, 3 Dosen Tetap STMIK Budi Darma
4 Dosen Tetap Universitas Pembangunan Panca Budi
1,2, 3 Jl. Sisingamangaraja No. 338 Simpang limun Medan
4 Jl. Jendral Gatot Subroto KM. 4,5 Sei. Sekambing Medan

Abstrak
Jaminan Kesehatan Masyarakat merupakan salah satu program pemerintah untuk
rakyat Indonesia dalam mendapatkan layanan perobatan pada Puskesmas. Program
sangat membantu bagi rakyat yang berpenghasilan rendah dan hidup dibawah garis
kemiskinan. Indikator bagi pemerintah dalam memberikan pelayanan ini terdiri
dari 10 (sepuluh) kriteria yaitu Status Kepemilikan Rumah, Luas lantai per anggota
rumah tangga, Jenis lantai rumah, Jenis dinding rumah, Penerangan rumah yang
digunakan, Bahan bakar yang digunakan, Frekuensi makan dalam sehari,
Kemampuan membeli daging/ayam/susu dalam seminggu, Pekerjaan kepala rumah
tangga, Pendidikan kepala rumah tangga. Pada penerapannya tentu memiliki
kendala kendala dalam memutuskan siapa peserta yang mendapatkan pelayanan
Jamkesmas tersebut. Dengan penerapan salah satu Multi-Criteria Decision Making
(MCDM) mampu untuk mengatasi kendala yang dihadapi pemerintah. Beberapa
metode dari MCDM diantaranya Simple Additive Weighting, Weighted Product,
Weighted Sum Model dapat mengatasi permasalahan ini. Dengan menerapkan WSM
yang tergolong mudah dan cepat, diyakini mampu mendapatkan hasil yang terbaik.
Kata Kunci: Weigted Sum Model, Jamkesmas, Jaminan Kesehatan Masyarakat

I. PENDAHULUAN
Jaminan kesehatan masyarakat atau disebut dengan jamkesmas merupakan
salah satu upaya pemerintah untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap
pelayanan kesehatan, sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang
Dasar 1945 pasal 28 H, yang menetapkan bahwa kesehatan adalah hak dasar setiap
individu dan semua warga negara berhak mendapatkan pelayanan kesehatan
termasuk masyarakat miskin.
Seiring keberhasilan yang telah dicapai pada program Jamkesmas ini, masih
ada permasalahan yang perlu dibenahi, salah satunya dalam hal penentuan peserta
Jamkesmas itu sendiri. Karena saat ini banyak Jamkesmas yang dinilai tidak tepat
sasaran, dimana masih banyak orang yang seharusnya berhak, justru tidak
mendapatkan jamkesmas tersebut, begitu juga sebaliknya. Selama ini kepesertaan
Jamkesmas ditetapkan langsung oleh Pemerintah Daerah. Hal ini berdampak
adanya subjektifitas di dalam penentuan peserta Jamkesmas, terutama jika
beberapa calon peserta yang ada memiliki tingkat kelayakan yang tidak jauh
berbeda.
Fakta di atas merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh pemerintah
saat ini. Oleh karenanya, guna membantu mempercepat dan mempermudah serta
mengurangi subjektifitas di dalam proses pengambilan keputusan penentuan
peserta Jamkesmas, diperlukan suatu bentuk sistem pendukung keputusan.
Tujuannya adalah untuk membantu pengambil keputusan memilih berbagai
alternatif keputusan yang merupakan hasil pengolahan informasi-informasi yang
diperoleh atau tersedia dengan menggunakan metode-metode pengambilan
keputusan[1][2].
Beberapa metode yang dapat diterapkan dalam sistem pendukung keputusan
diantaranya, metode Simple Additive Weighting (SAW), Weighted Sum Model(WSM),
Weighted Product(WP) merupakan metode yang tergolong sederhana
penyelesaiannya[3][4][5] bila dibandingkan dengan Technique For Orders
Preference By Similarity To Ideal Solution (TOPSIS), Elimination and Choice
Expressing Reality ( ELECTRE) ataupun Promethee II, EXPROM II[2][6]. Metode
WSM dipilih dikarenakan kemudahannya dalam mencari alternatif terbaik dari
beberapa alternatif yang ada.
Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan maka metode ini dapat melakukan
perangkingan terhadap setiap atribut dan menghasilkan alternatif yang berhak
menjadi peserta jamkesmas berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan. Apabila
proses pengambilan keputusan tersebut dibantu oleh sebuah sistem pendukung
keputusan yang terkomputerisasi, subjektifitas dalam pengambilan keputusan
diharapkan bisa dikurangi dan diganti dengan pelaksanaan seluruh kriteria bagi
calon peserta Jamkesmas. Dengan demikian hanya peserta yang benar-benar
layaklah yang diharapkan akan terpilih. Namun demikian dalam sistem ini yang
memegang peranan penting adalah pengambil keputusan karena sistem hanya
menyediakan alternatif keputusan, sedangkan keputusan akhir tetap ditentukan
oleh decision maker (pengambil keputusan).

2. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Sistem Pemdukung Keputusan
Menurut Wibisono D (2003) sistem pendukung keputusan dapat membantu
pengambil keputusan untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi melalui
interaksi antara database yang tersedia pada suatu perusahaan dengan perangkat
lunak dari sistem pendukung keputusan[1][3].
Raymond (1995) mendifinisikan bahwa sistem pendukung keputusan
ditujukan untuk masalah masalah tertentu yang harus di selesaikan oleh manager
sebagai pengambil keputusan dalam tingkatan manajemen[7].
Dapat disimpulkan bahwa dengan pemakaian komputer yang mengelola baik
database maupun sistem informasi yang terdapat pada suatu perusahaan dapat
membantu manajer untuk mengatasi permasalahan permasalahan yang timbul di
tingkat manajemen sehingga menghasilkan keputusan dibutuhkan manajer dalam
menyelesaikan suatu masalah yang terjadi[8].
2.2. Jaminan Kesehatan Masyarakat
Jaminan Kesehatan Masyarakat atau disingkat Jamkesmas merupakan
program negara Indonesia yang diperuntukkan bagi warga negaranya. Program ini
memberikan perlindungan sosial pada bidang kesehatan yang dapat menjamin
masyarakat miskin serta tidak mampu. Program Jamkesmas ini memiliki iuran yang
dibayarkan oleh pemerintah.
2.3. Weighted Sum Model (WSM)
Metode Weighted Sum Model merupakan metode yang sangat umum, dan
banyak diterapkan untuk membantu pengambil keputusan dalam mengambil suatu
keputusan[9]. WSM merupakan salah satu metode yang paling sederhana dan
mudah dipahami penerapannya.
Merupakan bagian dalam metode MCDM(Multi-Criteria Decison Making)
dalam mengevaluasi nilai pada setiap alternatif.
……………………(1)
Dimana :
n = jumlah kriteria
wj = bobot dari setiap kriteria
xij = nilai matrik x
Nilai Ai yang paling besar merupakan alternatif yang terpilih.

3. HASIL dan PEMBAHASAN
Penerapan metode Weighted Sum Model ini merupakan metode yang sangat
sederhana dengan hanya beberapa langkah untuk dapat memberikan hasil
penentuan peserta jaminan kesehatan masyarakat pada desa kampung Nelayan
yang terdapat di Belawan. Keputusan yang dihasilkan dngan penerapan WSM bukan
merupakan keputusan akhir/mutlak yang digunakan perangkat desa untuk
memutuskan masyarakat penerima JamKesMas tersebut. Proses proses yang
dilakukan pada Weight Sum Model (WSM) memerlukan kriteria-kriteria yang
mempengaruhi peserta (alternative) dalam perhitungannya. Kriteria (C) dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Kriteria
Pada kriteria tabel 1 akan ditentukan bobot untuk tiap tiap kriteria. Penentuan
bobot berdasarkan dari lima bilangan fuzzy yaitu, sangat rendah (SR), rendah (R),
cukup (C), tinggi (T), dan sangat tinggi (ST) seperti terlihat pada gambar 2 berikut.
Gambar 2. Bilangan Fuzzy Penentuan Bobot
Dari gambar 2, bilangan-bilangan fuzzy dapat dikonversikan ke bilangan crisp
seperti pada tabel 2.
Tabel 2. Bobot
Bilangan Fuzzy Nilai
Sangat Rendah (SR) 0
Rendah ( R ) 0.25
Cukup ( C ) 0.5
Tinggi (T) 0.75

Pada kriteria yang terdapat di tabel 1 dapat dijabarkan sesuai dengan bobot yang
telah ditentukan pada tabel 2 yang terlihat penjabarannya pada tabel 3.
Tabel 3. Penjabaran kriteria dan bobot
Kriteria Keterangan Bobot
C1 Menyewa 1
Warisan 0,5
Milik Sendiri 0,25
C2 < 2 m2 1
< 4 m2 0,75
< 6 m2 0,5
< 8 m2 0,25
< 16 m2 0
C3 Tanah 1
Papan kualitas
rendah
0,5
Semen 0,25
C4 Bambu 1
Papan kualitas
rendah
0,75
Kayu 0,5
Tembok 0,25
Lainnya 0
C5 Bukan Listrik 1
Listrik 0,25
C6 Kayu 1
Minyak tanah 0,75
Gas LPG 0,5
C7 1 1
2-3 0,75
3-4 0,5
C8 0 1
1 0,75
2 0,5
>2 0,25
C9 Nelayan 1
Betor 0,75
Buruh 0,5
Lainnya 0,25
C10 Tidak Pernah
Sekolah
1
Tidak Tamat SD 0,75
SD 0,5
SMP 0,25
Lainnya 0

Tabel 4 merupakan tabel yang berisikan masyarakat kampung Nelayan yang
terdapat di daerah Belawan. Data tersebut merupakan data masyarakat yang ingin
mendapatkan Jamkesmas.
Tabel 4. Data Calon Peserta Jamkesmas
Kriteria Rudi Dimas Angga Wahyu Donni
A1 A2 A3 A4 A5
C1 1 0,25 0,5 0,25 1
C2 0,75 1 0,25 0,25 1
C3 0,25 1 0,25 0,25 1
C4 0,75 1 0,25 0,25 1
C5 0,25 1 0,25 0,5 0,25
C6 0,75 1 0,5 1 0,25
C7 0,5 0,75 0,5 1 0,25
C8 0,75 1 0,5 1 0,25
C9 0,75 1 0,25 1 0,5
C10 0,5 0,75 0 1 1
Dari tabel 4 diperoleh matrik x seperti dibawah ini.

















1 1 1 1 0,25 0,25 0,25 0,25 0,5 1
0,25 0,25 0,25 0,25 0,5 1 1 1 1 1
0,5 0,25 0,25 0,25 0,25 0,5 0,5 0,5 0,25 0
0,25 1 1 1 1 1 0,75 1 1 0,75
1 0,75 0,25 0,75 0,25 0,75 0,5 0,75 0,75 0,5
x
Untuk bobot sebagai berikut :
w  0,1 0,05 0,05 0,05 0,15 0,15 0,15 0,05 0,15 1
Berdasarkan rumus ke 1, maka perhitungan dari WSM sebagai berikut :
A1 = (0,1*1) + (0,05*0,75) + (0,05*0,25) + (0,05*0,75) + (0,15*0,25) +
(0,15*0,75) + (0,15*0,5) + (0,05*0,75) + (0,15*0,75) + (0,1*0,5)
= 1,063
A2 = (0,1*0,25) + (0,05*0,1) + (0,05*0,1) + (0,05*0,1) + (0,15*1) +
(0,15*1)+(0,15*0,75) + (0,05*1) +(0,15*1) + (0,1*0,75)
= 1,538
A3 = (0,1*0,5) + (0,05*0,25) +(0,05*0,25) + (0,05*0,25) + (0,15*0,25) +
(0,15*0,5) + (0,15*0,5) + (0,05*0,5) + (0,15*0,25) + (0,1*0)
= 0,338
A4 = (0,1*0,25) + (0,05*0,25) +(0,05*0,25) + (0,05*0,25) +(0,15*0,5) + (0,15*1)
+ (0,15*1) + (0,05*1) + (0,15*1) + (0,1*1)
= 1,638
A5 = (0,1*1) + (0,05*1) +(0,05*1) + (0,05*1) +(0,15*0,25) + (0,15*0,25) +
(0,15*0,25) + (0,05*0,25) + (0,15*0,5) + (0,1*1)
= 1,450

Tabel 5. Hasil Rangking
Alternatif Hasil Rangking
A1 1,063 4
A2 1,538 2
A3 0,338 5
A4 1,638 1
A5 1,450 3
Dari perhitungan di atas bahwa A4 > A1 > A5 > A2 > A3 sehingga dapat diputuskan
bahwa A4 merupakan alternatif yang terbaik dari alternatif yang lain dan
merupakan di urutan pertama dalam daftar peserta yang mendapatkan Jaminan
Kesehatan Masyarakat.
4. SIMPULAN
Dari uraian penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa metode WSM salah satu
dari MCDM yang sangat sederhana penerapannya yang dapat membantu pengambil
keputusan menghasilkan suatu keputusan yang terbaik dari beberapa alternatif.
Penerapan WSM tidak membedakan kriteria benefit ataupun cost, sehingga kisaran
bobot sangat mempengaruhi perhitungan hasil yang terbaik.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kusrini, Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan. Yogyakarta: Andi,
2007.
[2] Mesran, G. Ginting, Suginam, and R. Rahim, “Implementation of Elimination
and Choice Expressing Reality ( ELECTRE ) Method in Selecting the Best
Lecturer ( Case Study STMIK BUDI DARMA ),” Int. J. Eng. Res. Technol. (IJERT,
vol. 6, no. 2, pp. 141–144, 2017.
[3] S. Dewi, Wardoyo, Hartati, and Harjono, Fuzzy Multi-Attribute Decision
Making (Fuzzy MADM). Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006.
[4] K. Safitri, F. T. Waruwu, and M. Mesran, “SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN
PEMILIHAN KARYAWAN BERPRESTASI DENGAN MENGGUNAKAN METODE
ANALYTICAL HIEARARCHY PROCESS (Studi Kasus : PT.Capella Dinamik
Nusantara Takengon),” MEDIA Inform. BUDIDARMA, vol. 1, no. 1, Feb. 2017.
[5] S. Solikhun, “Perbandingan Metode Weighted Product Dan Weighted Sum
Model Dalam Pemilihan Perguruan Swasta Terbaik Jurusan Komputer,” Klik
- Kumpul. J. Ilmu Komput., vol. 4, no. 1, p. 70, 2017.
[6] Y. Zai, M. Mesran, B. Nadeak, and I. Saputra, “PENERAPAN TECHNIQUE FOR
ORDERS PREFERENCE BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION (TOPSIS)
UNTUK KEPUTUSAN PEMBERIAN KREDIT PADA CALON NASABAH (Studi
Kasus : PT. SS Finance),” MEDIA Inform. BUDIDARMA, vol. 1, no. 1, Feb. 2017.
[7] T.-P. Turban, E., Aronson, J., & Liang, Decision Support Systems And Inteligence

[8] M. I. Perangin-angin, W. Fitriani, N. Mayasari, A. Putera, and U. Siahaan,
“Tuition Reduction Determination Using Fuzzy Tsukamoto,” Int. J. Eng. Sci.
Invent., vol. 5, no. 9, pp. 68–72, 2016.
[9] S. Sarika, “Server Selection by using Weighted Sum and Revised Weighted
Sum Decision Models,” Int. J. Inf. Commun. Technol. Res., vol. 2, no. 6, pp. 499–
511, 2012.

Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK)
Volume (2) No. 1 Juli 2017
ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839
http://tunasbangsa.ac.id/ejurnal/index.php/jurasik

Wednesday, September 12, 2018

KESEHATAN MASYARAKAT ANGKATAN 2018

Assamu'alaykum warahmatullah...
Saya Nadia Aulia mahasiswi jurusan Kesehatan Masyarakat UNSOED angkatan 2018.
Nah apa sih nama angkatan 2018 dari jurusan Kesehatan Masyarakat?
Yap! Sesuai dengan judul... namanya Formic.
Dan kita juga punya yel yel loh ini liriknya

Kami Formic beraksi
Walau panas terik matahari
Berjuta kali kami Formic berbakti
Bagiku itu langkah pasti

Di hari-hari esok adalah milik kita
Formic jaya kebanggaan negara
Gegap gempita kami Formic bisa
Demi kejayaan Indonesia

Marilah kawan
Mari kita nyanyikan
Sebuah lagu...
Lagu kemenangan


Terima kasih. Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.

Tuesday, September 11, 2018

Penerapan Isi Tri Dharma Perguruan Tinggi Sebagai Mahasiswa

Bagi Anda yang hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, atau hendak menjadi dosen di perguruan tinggi tertentu, maka Anda perlu berkenalan dengan istilah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bisa jadi istilah ini memang sudah tidak asing di telinga Anda. Pasalnya di seluruh perguruan tinggi, baik negeri ataupun swasta. Wajib memampang poin-poin Tri Dharma Perguruan Tinggi di tempat-tempat strategis, agar bisa dilihat oleh seluruh aktivitas akademik di kampus tersebut. Walau mungkin sebagian besar dari Anda sudah paham terkait isi beserta seluk beluk Tri Dharma Perguruan tinggi, namun kami yakin pasti banyak juga yang hanya sekedar tahu istilahnya. Bahkan dari kita ada juga lho yang belum pernah mendengar sama sekali.

Sebelum kita berkenalan lebih jauh dengan Tri Dharma perguruan tinggi, maka sebelumnya kita perlu tau dulu definisi dari istilah ini. Kalau kita jabarkan secara bahasa, maka kita bisa mengartikan kata-katanya satu persatu. Di mana kata “Tri” yang berasal dari bahasa Sansakerta berarti tiga dan “Dharma” yang juga dari bahasa Sansakerta mengandung arti kewajiban. Jika mengacu pada arti dua kata di awal, maka bisa didefinisikan bahwa Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah tiga kewajiban perguruan tinggi. Tapi, ini adalah definisi secara bahasa. Nah, jika didefinisikan secara istilah, Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tiga hal yang harus dimiliki atau harus ada di sebuah perguruan tinggi saat aktivitas akademik berlangsung. Dan tiga hal tersebut merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dan dikembangkan secara berkesinambungan oleh seluruh civitas akademika di antaranya dosen dan mahasiswa. Idealnya Tri Dharma Perguruan Tinggi ini terinternalisasi ke dalam jiwa seluruh civitas akademika, sehingga istilah ini bukan hanya slogan atau jargon belaka. Namun hal inipun menjadi budaya yang disadari oleh semuanya. Dengan begitu, maka cita-cita dari Tri Dharma Perguruan Tinggi ini akan terwujud dan terimplementasikan dengan baik.

Setelah berbicara panjang lebar mengenai apa itu definisi Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka untuk lebih memahaminya lagi. Kita perlu mengetahui isi dari Tri Dharma Perguruan tinggi ini. Isi Tri Dharma ini ada tiga, dan ketiga isinya merupakan landasan dari sebuah perguruan tinggi. 

Yang pertama adalah pendidikan. Bangsa Indonesia ini membutuhkan kaum intelektual, yang kelak bisa membangun bangsa ini menjadi lebih maju lagi. Dan salah satu kaum intelektual yang jumlahnya semakin bertambah banyak adalah mahasiswa. Nah, untuk mencetak generasi intelektual yang berbudi luhur serta memiliki sudut pandang yang baik terhadap dunia, maka perguruan tinggi membutuhkan sistem pendidikan yang baik. Sistem pendidikan yang baik dan komprehensif di perguruan tinggi tentunya tidak hanya sekedar transfer ilmu dari dosen ke mahasiswanya saja. Tapi peran mendidik pun tetap harus menjadi tanggung jawab dosen sebagai tenaga pendidik di perguruan tinggi tersebut. Jadi amatlah tidak benar, jika ada dosen yang lebih mengutamakan kepentingannya dibandingkan kepentingan para mahasiswanya.

Lalu yang kedua adalah penelitian dan pengembangan. Selain sebagai sebuah wadah atau sistem pendidikan, perguruan tinggi pun memiliki kewajiban untuk melakukan penelitian dan pengembangan. Terkait ilmu-ilmu yang diampu di perguruan tinggi tersebut. Sehingga peran perguruan tinggi tidak hanya men-transfer ilmu yang sudah tersedia saja, namun perlu mengembangkannya lagi melalui berbagai kegiatan penelitian. Kewajiban meneliti di perguruan tinggi tidak hanya ditujukan kepada mahasiswanya saja, tapi para dosennya pun memiliki kewajiban yang sama. Tapi bedanya jika mahasiswa melakukannya sebagai syarat kelulusan dengan mengimplementasikan ilmu yang didapat melalui penelitian, sedangkan kalau dosen menjadi prasyarat yang terkait dengan jenjang karir. Namun tujuan utamanya tetap untuk pengembangan ilmu yang ada dan penelitian hal-hal baru.

Kemudian kita telah sampai pada isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga. Isi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga adalah pengabdian pada masyarakat. Siapa yang bertanggung jawab untuk mengabdi? Yang bertanggung jawab untuk mengabdi ke masyarakat tentunya seluruh civitas akedemika perguruan tinggi tersebut. Namun masing-masing tentunya mengabdi dengan cara yang berbeda. Bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, misalnya melalui organisasi-organisasi kemahasiswaan, entah itu dalam bentuk bakti sosial, penyuluhan, pendampingan masyarakat atau hal lainnya. Nah, sedangkan bentuk pengabdian para dosennya bisa dalam bentuk jurnal-jurnal penelitian yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat secara luas atau penemuan-penemuan yang pada akhirnya membantu masyarakat.

Sebagai mahasiswa, kita patut untuk menerapkannya dalam kehidupan perkuliahan. Nah, yang penerapan isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang pertama adalah penerapan pendidikan. Sebagai mahasiswa, kita sudah dinilai melakukan penerapan pendidikan. Mempelajari berbagai cabang ilmu, memanfaatkan fasilitas penunjang pembelajaran juga merupakan penerapan isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang pertama. Mengembangkan diri dengan memanfaatkan seluruh fasilitas dan wadah yang disediakan oleh perguruan tinggi. Hal ini mencakup pembelajaran didalam (akademik) dan diluar kelas (himpunan, organisasi, unit kegiatan, dll). Tidak sekedar ilmu dunia, namun juga ilmu akhirat. Karena nanti saat bekerja, yang kita butuhkan tidak hanya hard skills, namun soft skills juga menjadi penunjang kita agar mudah mendapatkan pekerjaan. Jika kita memiliki pengalaman dibidang apapun, maka apapun yang dilakukan nanti akan menjadi mudah. Jika kita terbiasa menjadi pembelajar, maka kita akan mudah mempelajari apapun. Menjadi mudah, karena sudah terbiasa. Kemudian juga pelajarilah ilmu agama, karena segala hal yang tanpa dilandasi oleh agama bisa jadi akan menghancurkan. Seperti ungkapan “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” (Albert Einstein, 1950). Jadilah manusia yang bermartabat, tidak hanya cerdas akalnya, namun juga mulia akhlaknya.

Kemudian penerapan dari isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang kedua yaitu penerapan penelitian dan pengembangan sebagai mahasiswa. Nah sebagai mahasiswa, kita dapat menerapkannya dengan melatih kemampuan analisis kita dalam berbagai cabang ilmu. Tidak hanya menerima begitu saja, namun kita juga harus tau asal muasal dari suatu cabang ilmu dan tidak terpaku pada fokus tertentu saja. Mengenai pengembangan, kita juga dapat mengembangkan penelitian dan penemuan yang telah ada menjadi sebuah inovasi agar terciptanya perkembangan dari suatu perguruan tinggi. Karena manusia telah dianugerahkan akal yang begitu sempurna, alangkah baiknya apabila digunakan dengan optimal agar mampu manghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.

Lalu penerapan dari isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terakhir yaitu penerapan pengabdian masyarakat sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa, kita dapat melatih cara kita dalam menghadapi dan berbicara kepada masyarakat sebagai perwujudan penerapan pengabdian masyarakat. Tidak hanya itu. Kita juga dapat melatih kepekaan sosial agar mampu membaur dengan masyarakat, mengetahui segala bentuk permasalahan yang ada, serta mampu memberikan solusi atas masalah tersebut menggunakan penelitian sebagai hasil dari pendidikan yang telah dilaksanakan. Karena tujuan akhir mahasiswa adalah mampu menghasilkan perubahan yang lebih baik untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan diri sendiri atau golongan. Jangan pikirkan bagaimana hidup kita saat ini, tapi pikirkan bagaimana kita hidup dimasa depan 5 hingga 20 tahun mendatang. Karena kita akan hidup dimasa depan sebagai ujung tombak kehidupan bangsa. Kita tidak bisa berharap banyak kepada masyarakat awam, justru merekalah yang sedang membutuhkan kita. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan menjadi pelopor untuk mewujudkan janji-janji kemerdekaan, melanjutkan semangat perjuangan pahlawan, serta menjadi pemimpin atas segala permasalahan, seperti ungkapan berikut “Indonesia memiliki banyak masalah, bukan karena banyaknya orang jahat. Tapi karena orang-orang baik memilih duduk diam dan mendiamkan. Mari kita sama-sama turun tangan.” (Anies Rasyid Baswedan, Ph.D., 27 April 2014). 

Monday, September 10, 2018

Mengenal Lebih Dekat dengan ISMKMI

Organisasi terbentuk dikarenakan adanya kesamaan visi dan misi yang akan dituju sekelompok orang. Salah satu organisasi yang menarik perhatian saya adalah ISMKMI atau Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. ISMKMI ialah sarana untuk bertukar pandang dan pikiran guna memecahkan persoalan-persoalan yang timbul didalam masyarakat dan dunia ilmiah, khususnya dalam pembangunan kesehatan nasional yang semakin kompleks di wilayah negara Republik Indonesia sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu kesehatan masyarakat.


Sejarah Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia, didorong oleh adanya keinginan luhur dan sadar akan peranan, kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai warga negara serta dilandasi oleh tridarma perguruan tinggi untuk membentuk himpunan mahasiswa kesehatan masyarakat se–Indonesia dalam suatu wadah yang berfungsi sebagai suatu sarana untuk bertukar pandang dan pikiran guna memecahkan persoalan-persoalan yang timbul didalam masyarakat dan dunia ilmiah, khususnya dalam pembangunan kesehatan nasional yang semakin kompleks di wilayah negara Republik Indonesia sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu kesehatan masyarakat. Atas inisiatif dari senat mahasiswa kesehatan masyarakat UNHAS, maka mulailah direalisir rencana tersebut tahap demi tahap. Mula-mula SEMA FKM Unhas mengirim dua orang utusannya pada pertengahan tahun 1989 sebagai langkah awal dalam mengadakan penjajakan pembentukan ISMKMI. Utusan tersebut masing-masing sahabat Andi Mansur dan sahabat Fachruddin yang mengadakan kunjungan kampus keberbagai univesitas yang membina FKM dan PSKM. Dari kunjungan kampus di UI Jakarta, UNDIP Semarang dan UNAIR Surabaya diperoleh hasil yang sangat memuaskan serta adanya dukungan dari mahasiswa FKM dan PSKM-FK mengenai rencana pembentukan tersebut.

Maka pada akhir tahun 1989, sekitar 25 orang mahasiswa kesehatan masyarakat UNHAS kembali mengadakan pertemuan dan seminar ilmiah di FKM-UI, PSKM FK-UNDIP, PSKM FK-UNAIR, FK UDAYANA, FK UGM dalam misi studi perbandingan Jawa-Bali yang tujuannya tiada lain untuk mencari persamaan persepsi baik terhadap mahasiswa kesehatan masyarakat maupun terhadap mahasiswa kedokteran untuk kelancaran rencana pem,bentukan ikatan senat yang dimaksud. Pada tahun 1990 SEMA FKM Unhas mengutus kembali dua orang yaitu sahabat Lukman Waris dan sahabat Asriful untuk sesegera mungkin mengadakan kunjungan dikampus PSKM FK-USU, PSKM FK-UNDIP, PSKM FK-UNAIR, dan FKM UI guna mengadakan konfirmasi waktu dan tempat pelaksanaan Musyawarah Nasional ISMKMI (MUNAS I ISMKMI).

Dari hasil-hasil pertemuan yang diadakan diberbagai tempat tersebut, maka diperoleh kesepakatan bahwa semua PSKM dan FKM yang ada di Indonesia membebankan tanggung jawab kepada SEMA FKM UNHAS sebagai pelaksana Munas I ISMKMI di Ujung Pandang (sekarang Makassar). Pada pertengahan tahun 1991 terbentuklah p-anitia pelaksana Munas I ISMKMI dari Senat Mahasiswa FKM Unhyas. Maka mulailah direalisasikan rencana tersebut dengan terlebih dahulu mengutus dua orang panitia, yaitu sahabat Andi Mansur dan Sahabat Lukman Waris keberbagai Universitas yang membina FKM dan PSKM guna mengkonfirmasikan waktu dan teknis pelaksanaan Munas I ISMKMI. Akhirnya dari konfirmasi bersama disepakati bahwa Munas I ISMKMI akan dilaksanakan pada tanggal 23-26 Desember 1991 di Ujung Pandang. Pada tanggal 21-22 Desember 1991 telah diadakan rapat pendahuluan yang diberi nama Pra Munas I ISMKMI yang dihadiri oleh; Senat Mahasiswa FKM UI, Senat Mahasiswa PSKM FK UNAIR, Senat Mahasiswa FK UNDIP, dan Senat Mahasiswa FKM UNHAS.

Dalam pertemuan yang diwarnai suasana persudaraan dan keakraban, maka lahirlah rumusan; tata tertib munas I ISMKMI, agenda acara munas I ISMKMI, dan tata tertib persidangan munas I ISMKMI.Sehingga pada Munas pertama tersebut terpilihlah Saudara Asriful sebagai Sekretaris Jenderal ISMKMI yang pertama untuk periode 1991-1993 dan selanjutnya untuk menghormati perjuangan sahabat-sahabat perintis ISMKMI lainnya, maka tanggal 24 Desember diperingati sebagai hari lahirnya ISMKMI.

Tujuan Umum ISMKMI adalah menjalin persatuan dan kesatuan antar Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat se-Indonesia dalam raangka pembinaan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat se-Indonesia sebagai insan yang menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu kesehatan masyarakat. Tujuan Khusus ISMKMI adalah meningkatkan kepekaan dan peranan Senat mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam mengkritisi pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan kesehatan masyarakat pada khususnya dan meningkatkan peran aktif dalam upaya promotif dan preventif demi mencapai masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat dan produktif. Tugas ISMKMI adalah membina Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, membina Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang berwawasan ilmiah dan sosial kemasyarakatan, membina dan menciptakan komunikasi yang baik dan berkelanjutan antar Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat se-Indonesia, mengembangkan potensi kritis, inovatif, kreatif dan keilmuan, menjalin dan membina hubungan kerja sama yang baik dengan alumni mahasiswa kesehatan masyarakat se-Indonesia secara kekeluargaan, melakukan upaya-upaya advokasi terhadap masalah-masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dan menjalin dan membina hubungan kerjasama yang baik dengan organisasi atau institusi lain yang terkait baik dalam maupun luar negeri.

Struktur dari ISMKMI terdiri dari sekretaris jenderal, wakil sekretaris jenderal, staff ahli, kepala biro admin, 2 staff biro admin, kepala biro keuangan, 2 staff biro keuangan, koordinator dewan pengawas nasional, dan 3 staff dewan pengawas nasional.